Connect with Facebook

Commission for Justice, Peace and Pastoral for Migrant and Itinerant People

KKP-PMP KWI
Mayday, Mayday, Mayday...
Oleh: Ch. Dwi Yuli Nugrahani*)
yuli nugrahani

Kerja adalah sebuah hak fundamental dan sebuah kebaikan bagi umat manusia, sebuah kebaikan yang bermanfaat, sepantasnya bagi manusia karena kerja merupakan cara yang tepat baginya untuk memberi ungkapan bagi dan mempertinggi martabat manusianya (Kompendium ASG, hal 198). Dengan demikian, bekerja merupakan hak tidak hanya bagi segelintir manusia, namun siapa saja yang bisa disebut manusia, dengan melihat kemampuan manusia tersebut tanpa diskriminasi.

Secara iman, ini sejalan dengan tugas awal manusia pada peristiwa penciptaan yang ditulis dalam Perjanjian Lama (Kitab Kejadian). Manusia diciptakan seturut citraNya dan diminta untuk mengusahakan pemeliharaan taman Eden, dimana mereka ditempatkan. Kemudian ketika dosa merusak hubungan manusia dengan Allah, tugas itu berlanjut dengan pemeliharaan bumi. Bekerja menjadi bagian dari penciptaan manusia dan tidak bisa lepas darinya.

Di Perjanjian Baru, Yesus pun menjadikan diriNya sebagai seorang pekerja, sebagai anak tukang kayu dan bekerja bersamanya di 'bengkel' tukang kayu. Yesus mengajarkan untuk bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan kepadanya. Dia mengecam manusia yang tidak bekerja dan hanya menyembunyikan talentanya (bdk. Mat 24 : 46). Jadi, selain menjadi hak dasar, bekerja juga menjadi kewajiban dasar.

Gereja memberikan perhatian pada bidang ini. Melalui ensiklik sebagai seruan bagi para Uskup, Paus Leo XIII pada 15 Mei 1891 mengeluarkan Rerum Novarum. Ensiklik ini membahas kondisi kelas pekerja dan menegaskan hak-hak mereka. Empat pokok dari Rerum Novarum bisa dirumuskan sebagai berikut. Pertama, tuntutan upah yang adil. Tidak setiap kontrak upah adalah adil asal bebas. Upah mesti menjamin hidup kaum buruh. Kedua, hak buruh untuk berserikat. Karena lemah, kaum buruh berhak mencari kekuatan dalam kesatuan. Ketiga, intervensi negara. Negara berhak untuk ikut mengatur hidup masyarakat karena negara wajib melindungi golongan lemah. Peranan negara adalah subsidier. Dan keempat, anti-sosialisme. Sebagai sistem kemasyarakatan, sosialisme ditolak karena tidak mengakui hak milik. Sosialisme membuat kaum buruh tergantung lagi dan tidak mempunyai hak pribadi.

Tahun ini Rerum Novarum sudah berusia 100 tahun lebih, tepatnya 121 tahun. Apakah kondisi buruh sudah sesuai dengan yang diserukan? Salah satu masalah yang sekarang ini mengukung buruh/pekerja di Indonesia adalah sistem outsourcing. Seperti sebuah trend, sistem ini sangat cepat menyebar. Buruh atau pekerja diterima bekerja dengan menandatangani surat kerjasama. Apa yang tertulis itulah yang harus diikuti oleh kedua belah pihak. Ketika ada surat perjanjian kontrak, maka landasan hukum berbentuk apapun tidak berlaku lagi. Perjanjian kontrak ini tidak dengan perusahaan inti, tapi dilimpahkan kepada CV atau yayasan atau lembaga lain.

Inilah yang disebut outsourcing. Buruh tidak berhubungan langsung dengan tempat di mana dia bekerja. Berdasarkan UU no 13 tahun 2003, outsourcing hanya boleh diberlakukan untuk jenis kegiatan yang tidak inti/utama (misalnya: pekerjaan tertentu seperti pengepakan, pengamanan, pengiriman dan sebagainya. Atau diterapkan pada pekerjaan yang selesai untuk masa tertentu atau musiman).

Dari sudut pandang pemodal, sistem outsourcing akan membuat lebih efisien karena biaya akan difokuskan pada pekerjaan itu sendiri. Selain itu kecepatan produksi untuk efisiensi waktu. Dengan persaingan global saat ini, outsourcing menjadi trend. Motivasi yang sesungguhnya dari outsourcing menurut kacamata perusahaan, akan mendapat keuntungan karena dapat membagi resiko. Perusahaan tidak perlu memikirkan kebutuhan buruh dengan tunjangan ini itu, atau pesangon dan sebagainya, karena pekerja tidak bersentuhan dengan perusahaan itu sendiri. Pekerja tidak lagi berhubungan dengan pengusaha secara langsung, tetapi berhubungan dengan pemberi kerja.

Dengan model ini apa dampaknya terhadap buruh dan serikat buruh? Jelas mengurangi hak buruh. Tak ada peningkatan karier. Tidak ada jaminan berkesinambungan. Hak-hak pekerja hilang. Tidak ada jaminan pekerjaan. Tidak ada jaminan hukum yang tetap. Tidak ada pekerja tetap. Buruh tidak bisa menuntut hak-haknya ke pengusaha. Buruh semakin melemah terlebih karena mereka tidak lagi bisa berserikat.

Ini satu contoh saja dari seluruh deretan masalah normatif yang belum didapat buruh. Gaji di bawah standar, cuti yang tidak bisa diambil, jam kerja melebihi aturan, tunjangan kesejahteraan yang masih mimpi dan sebagainya. Pemerintah harusnya punya orientasi keterpihakan sehingga tidak ada rakyat yang jadi korban karena suatu kebijakan. Buruh dan pengusaha memiliki kepentingan bersama. Kepentingan buruh adalah mencapai kesejahteraan hidup dan kepentingan pengusaha adalah meraih keuntungan sebesar-besarnya. Namun keuntungan tersebut harus diraih dengan memperhatikan kesejahteraan buruh terlebih dahulu sebagai satu komponen penting dan paling lemah dalam industri.

Masalah-masalah lapangan kerja menantang tanggung jawab negara, yang tugasnya ialah memajukan kebijakan-kebijakan yang aktif dalam hal lapangan kerja (Kompendium ASG halaman 201). Kebijakan itu tentu harus menyangkut para pemodal dan para pekerja, secara adil dan fair. Namun sudahkah fungsi negara ini dijalankan?

Dan Gereja (hirarki dan awam), di bagian mana mengingat kekayaan Rerum Novarum ini sebagai bagian dari iman yang aktif? Kini, menjelang 1 Mei, Hari Buruh Internasional dan juga menjelang ulang tahun Rerum Novarum tanggal 15 Mei mendatang, bagaimana kita menanggapi teriakan SOS dari para buruh yang setiap kali mengulang nasibnya yang sekarat? Mereka sedang meluncur jatuh sambil berteriak terus menerus. Adakah yang mendengarnya? Mayday, mayday, mayday... ***

 

*) anggota Badan Pengurus KKP-PMP KWI, penggiat Forum Pendamping Buruh Nasional (FPBN) dan Penasehat Forum Komunikasi Serikat Pekerja Lampung (FKSPL)

 

 

 

 
Bersahabat Dengan Bumi (Refleksi Hari Bumi 2012)

Oleh: Pst. Christian Siswantoko Pr.

pst christian siswantoko pr

Setiap tanggal 22 April kita diajak untuk merenungkan keadaan bumi tempat kita hidup ini. Permenungan ini menjadi penting, ketika bumi tidak lagi ditempatkan sebagai teman seperjalanan hidup manusia, tetapi telah menjadi objek eksploitasi dan penjarahan oleh orang-orang  yang tidak bertanggung jawab. Permenungan, tidak hanya dimaksudkan untuk memunculkan kesadaran baru , tetapi memampukan setiap orang untuk berani  mengambil keputusan  lebih mencintai bumi dengan aksi-aksi yang nyata.

Bumi dengan segala isinya diciptakan oleh Allah dengan tujuan baik yaitu agar semua makluk bisa hidup bersama sama dan saling melengkapi satu sama lain (co-eksisten). Di atas bumi ini, manusia diberi kuasa untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta secara bijaksana. Oleh karena itu, posisi manusia sebagai citra Allah mempunyai peran sebagai wakil Allah dibumi ini. Sebagai wakil, maka manusia mau tidak mau, harus selalu mengacu pada kehendak dan harapan Allah sendiri.

Namun sayang, saat ini manusia tidak lagi menempatkan diri sebagai wakil Allah tetapi ingin seperti Allah yang ingin berkuasa terhadap apapun juga. Manusia tidak lagi digerakan oleh kehendak Allah, tetapi oleh nafsu keserakahan, kerakusan, kesombongan dan keangkaramurkaan yang membuat bumi tidak indah lagi. Bumi tidak hanya kehilangan keindahannya, tetapi juga kehilangan kekayaannya yang selama ini menjadi jaminan hidup setiap orang. Bumi yang sedang kita injak saat ini telah menjadi bumi yang miskin dan kemiskinan bumi, berarti kemiskinan manusia juga. Rusaknya bumi tidak hanya menghancurkan relasi harmonis antara manusia dengan alam, tetapi secara eksistensial mengancam seluruh kehidupan manusia, baik manusia saat ini maupun generasi yang akan datang. Generasi yang akan datang hanya akan menerima warisan tanah bumi yang gersang, tandus, kotor, miskin dan tidak lagi menjanjikan apa-apa untuk kehidupan.

 

Tiga relasi dasar

Dihadapkan pada permasalahan bumi yang sedang kritis ini, kita tidak bisa berpangku tangan atau sekedar menyalahkan pihak lain, tetapi berani membuat aksi nyata, meskipun kecil dan sederhana. Tindakan nyata itu bertitik tolak dari panggilan manusia untuk berlaku adil. Manusia dikatakan pribadi yang adil, jika mampu membangun relasi yang harmonis dengan Alam (Kosmos), Allah (Theos) dan sesama (Andrein) atau biasa disebut dengan relasi Cosmotheandris.Ketiga relasi itu saling berhubungan satu dengan yang lain. Logika yang amat sederhana bisa dikatakan demikian, relasi manusia dengan Allah mewujud dalam relasi yang baik dengan sesama dan alam semesta. Relasi dengan alam dan sesama yang baik, sebagai bentuk pertanggung jawaban manusia sebagai citra Allah di bumi ini.

Khusus relasi manusia dengan alam, ada beberapa hal yang sekiranya baik untuk diusahakan. Pertama, kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari bumi, oleh karenanya manusia harus menjaga kelestarian dan keutuhan bumi agar tetap terjaga kelangsungan hidupnya. Tanggung jawab manusia  untuk membangun hubungan yang harmonis dengan alam semesta ini sudah diamanatkan oleh Allah dalam misi penciptaan-Nya (Kej. 1:28). Kedua, sebisa mungkin tidak terlibat dalam pencemaran bumi, dengan memilah dan membuang sampah pada tempatnya, limbah rumah tangga dan home industri di olah sedemikian rupa sehingga tidak terlalu mencemari air, tanah dan udara. Ketiga, mengajak sebanyak mungkin orang (saudara dan teman) untuk lebih mencintai lingkungan. Bagaimanapun juga, masalah bumi adalah masalah bersama, semakin banyak orang yang terlibat dalam usaha penyelamatan bumi semakin banyak orang yang akan hidup sejahtera, termasuk anak cucu kita. Mari kita mulai bergerak.

 

*) Sekretaris Eksekutif KKP-PMP KWI

 

save the earth

 

Catatan redaksi:
Hari Bumi dicanangkan pada tahun 1970 oleh Senator Amerika Serikat yang juga merupakan pengajar lingkungan hidup, Gaylord Nelson. Tanggal ini bertepatan dengan musim semi di Northern Hemisphere (belahan Bumi utara) dan musim gugur di belahan Bumi selatan. Peringatan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yakni bumi.
Sementara itu PBB merayakan Hari Bumi pada 20 Maret. Tradisi ini dicanangkan oleh aktivis perdamaian John McConnell pada tahun 1969, berangkat dari hari dimana matahari tepat di atas khatulistiwa yang sering disebut Ekuinoks Maret.

sumber: wikipedia

 

 
Film Soegija akan rilis 7 Juni 2012
diskusi film soegija

"Mengalami kepemimpinan di masa lampau itu tidak gampang. Soegija berhasil dengan silent diplomacy dan kemanusiaannya. Soegija berhasil menunjukkan bahwa dasar dari seluruh nasionalisme adalah humanisme. Dan humanisme berdasar pada dialog antar multikultur." Demikian dikatakan Garin Nugroho yang didaulat untuk menjadi sutradara film kolosal Soegija. Menurutnya isu tentang multikulturalisme penting untuk terus dimunculkan, di tengah aneka konflik di tanah air terkait persoalan kebangsaan. Ditambah lagi dengan krisis kepemimpinan yang saat ini menjadi kegundahan sebagian besar masyarakat.

Film Soegija mengambil setting masa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia kurun 1940-1949, mengangkat kisah Mgr. Soegijapranata yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional dan juga uskup pribumi pertama di Indonesia. Posisinya sebagai pemimpin Gereja Katolik saat itu tidak menghalanginya berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Misalnya dalam perang 5 hari di Semarang, Uskup yang dikenal dengan kalimat "100 persen Katolik, 100 persen Indonesia" ini berhasil melakukan negosiasi dengan Jepang dan sekutu di Gereja Gedangan, tempat ia tinggal, untuk membuat gencatan senjata.

diskusi film soegija

Dibutuhkan waktu 3 tahun untuk melakukan penelitian hingga film ini lahir dan akan tayang pada 7 Juni 2012 mendatang. "Tiga tahun lalu saya mulai melakukan riset berdasarkan buku Rm. Budi Subanar SJ sebagai peneliti dan penulis buku tentang Mgr Soegijapranata. Rencananya hanya akan dibuat dokumentasi dalam bentuk video. Baru pada 2 tahun lalu Djaduk Ferianto mempertemukan saya dengan Garin. Lalu mulai muncullah ide membuat film layar lebar," ujar produser film dari SAV Puskat, Rm. Murti Hadi Wijayanto, SJ.

Dalam diskusi Film Soegija yang berlangsung di Gedung KWI, Jl. Cut Meutia 10, Jakarta, pada Minggu, 15 April 2012 ini hadir sejumlah narasumber lain diantaranya sejarawan Anhar Gonggong, kolumnis Sukardi, dan penulis buku Rm. Subanar. Hal yang menarik dari Soegija menurut Anhar adalah keluasan pikir dan tindaknya. Pada peristiwa pendudukan Jepang di Semarang, ia tidak hanya menyelamatkan umat Katolik namun juga bangsa Indonesia. "Dia bukan hanya uskup, dia pemimpin. Di tengah krisis musti ada orang yang bisa mengambil sikap dan melampaui dirinya. Itulah kategori pahlawan. Selain teruji sebagai pemimpin yang baik, ia memang layak disebut pahlawan," kata Anhar.

Maka seperti digarisbawahi Garin, film yang mengambil setting lokasi Semarang, Jogjakarta, Klaten, serta Ambarawa dan sekitarnya ini bukanlah film dakwah melainkan film tentang kebangsaan, kemanusiaan, dan keimanan.

diskusi film soegija

Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan keluarga besar. Satu keluarga besar, dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian, dan permusuhan.
(Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ)

 
OMK Keuskupan Tanjungkarang terlibat dalam Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan


Maraknya berbagai bentuk kekerasan dan semakin terbiasanya kita mengalami atau terlibat dalam situasi kekerasan justru membuat makin sulit memahami apa itu kekerasan. Menyadari kekerasan sebagai realitas kehidupan manusia, bahwa kekerasan itu ada dan dekat dengan keseharian kita, bahkan mengalami kekerasan tersebut baik sebaik korban, pelaku, mapun saksi. Atas alasan itulah Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang menyelenggarakan sosialisasi Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK) untuk orang muda Katolik (OMK).  "Aksi kekerasan semakin hari bukannya berkurang melainkan bertambah. Apalagi dengan makin berkembangnya media massa yang memberikan banyak suguhan kekerasan. Karena itu gerakan aktif tanpa kekerasan harus terus digiatkan," ungkap salah satu penggiat GATKI Keuskupan Tanjungkarang, Sr. M. Valentina, FSGM, di sela pelatihan yang berlangsung Gedung Serba Guna LA VERNA, Sabtu, 24 Maret 2012. "Apalagi anak muda sangat rentan dan mudah terjebak dalam tindak kekerasan. Maka perlu untuk mereka tahu ada alternatif lain selain kekerasan," lanjutnya ketika ditanya alasan tim GATKI melibatkan orang muda Katolik pada pelatihan kali ini.

sosialisai gatk tanjungkarang 1

GATK sendiri adalah gerakan yang sudah mulai didengungkan pasca reformasi. Ide awalnya dicetuskan oleh Rm. Yosep Adi Wardaya, SJ (alm) dengan nama  Active Non Violence (ANV). Seiring berjalannya waktu, akhirnya penamaannya diubah menjadi Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan. Seperti dikatakan fasilitator pelatihan, Pastor Serafin Dany Sanusi OSC, berbagai peristiwa kekerasan sosial yang terjadi di tanah air mendorong Gereja Katolik Indonesia untuk mempromosikan perdamaian di seluruh negeri ini. Dalam Nota Pastoral 2004 terungkap keprihatinan KWI akan budaya baru bangsa ini dimana segala persoalan diselesaikan dengan kekerasan, yang akhirnya nyawa manusia sudah tidak ada harganya lagi. Maka Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau (KKP-PMP) KWI menjadikan GATK sebagai sebuah gerakan yang akan dilakukan secara berkelanjutan. Demikian halnya dengan yang dilakukan oleh Keuskupan Tanjungkarang, GATK menjadi salah satu isu penting yang menjadi agenda Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang.

Dalam acara ini Pastor Dany dan Yuli Nugraheni dari Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang mengenalkan kepada peserta beragam bentuk kekerasan yang umurnya sudah setua umur peradaban manusia. Mereka juga diajak menelisik kembali pengalaman-pengalaman kekerasan dalam kehidupan mereka sambil mendeskripsikan pengertian kekerasan menurut pengalaman mereka sendiri. Di antara materi dan diskusi peserta juga diajak menikmati film tentang kekerasan dan lagu-lagu bertema sama.

sosialisasi gatk 2

Menyikapi terselenggaranya sosialisasi berupa pelatihan untuk OMK ini, koordinator OMK PriGisKali, Titus Wisnu Winarto mengaku gembira dengan tawaran Bagian Justice and Peace Keuskupan Tanjungkarang untuk menggelar sosialisasi GATK bagi kaum muda. "Ini kegiatan pertama kami bekerjasama dengan Tim Keuskupan dalam hal ini Justice and Peace/GATKI. Kami, OMK di garis bawah yang jauh dari perhatian kegiatan-kegiatan keuskupan ini sangat rindu dengan kegiatan-kegiatan dari keuskupan. Makanya saya senang, setelah perencanaan dari Desember tahun lalu, akhirnya terealisasi," ujarnya. Titus berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan agar OMK mendapatkan hal-hal baru, tidak hanya kegiatan seputar altar aja. "Saya tidak ada target khusus. Harapannya teman-teman OMK tahu ada gerakan itu, mengenal, dan memulainya dari diri sendiri dulu. Setelah itu bisa berbagi dan belajar bersama dengan OMK yang lainnya," tambahnya.

Pelatihan yang berlangsung selama 2 hari ini diikuti oleh OMK Prigiskali yang mewakili 3 paroki yakni Pringsewu, Gisting, dan Kalirejo, dan asrama sekolah, serta guru SD Fransiskus. Tak kurang dari 60 peserta hadir dalam pelatihan ini.

sosialisasi gatk 3

"Kami menolak kekerasan." Peserta Sosialisasi GATK: Stop Kekerasan Keuskupan Tanjungkarang.

(dhenok-hastuti)
 
Simposium JRPK, Bertransformasi Bersama Alam

Manusia tak ubahnya seperti ulat yang bertumbuh dari kecil menjadi besar kemudian menjadi kepompong dan pada akhirnya berkembang menjadi kupu-kupu. Yang membedakan adalah manusia bertransformasi bukan saja mengubah alam tetapi manusia juga berubah menjadi baru. Demikian dikatakan Sr. Gailworcelo, SGM membuka pertemuan Moment of Grace yang digagas oleh Jaringan Religius Peduli Kemanusiaan (JRPK), pada Sabtu, 31 Maret 2012 di Gedung Provincialat MSC, Jl. KH. Hasyim Ashari 23-27, Jakarta.

simposium jrpk

Dalam presentasinya Sr. Gail membawa serta kumparan spiral lentur sebagai media untuk menggambarkan rentang waktu dan peristiwa yang terlibat di dalamnya. Dari waktu ke waktu perubahan berlangsung dan membawa dampak baik positif maupun negatif untuk setiap jamannya. Itu pula yang terjadi di kalangan religious. Dengan penggambaran Moment of Grace Sr. Gail menyebutkan enam perkembangan, yakni:

1. Desert: padang gurun. Ini merupakan pengalaman kekeringan dalam konteks sejarah ketika biarawan/biarawati masuk ke padang gurun untuk berdoa dan ketenangan diri sendiri.

2. Community: Pada fase ini para biarawan/biarawan tidak lagi soliter tetapi berubah menjadi komunitas. Mencari Kristus bukan lagi pribadi tetapi bersama-sama.

3. Mendicant: Pada fase ini muncul para biarawan/biarawati yang diinspirasikan oleh Santo Fransiskus Xaferius, berjalan meminta bantuan dari umat dan berbuat baik.

4. Intellectual: Pada taraf ini Santo Ignasius Yoloya mulai mengandalkan relasi antara hati dan pikiran.

5. Activist: Di sini muncul tarekat-tarekat di jaman modern Santo Vincent de Paul dan Santa Angela Merici.

6. Cosmological. Adalah filsuf Perancis, Pierre Teilhard de Chardin yang menyebutkan tentang pendekatan kosmos sebagai elemen-elemen yang bertumbuh dan berkembang bersama. Dikatakannya bahwa dunia bergerak menuju kepada Allah. Dan Allah ada di dalam ciptaan yang berperan mendorong terjadinya evolusi.

simposium jrpk-gail

Perjalanan Moment of Grace ini menjadi pengantar akan tugas setiap individu dalam kehidupannya. Dalam pertemuan ini diterjemahkan lebih lanjut dalam simposium bertajuk The Awakening The Dreamer, Changing The Dream. Disebutkan ada tiga aspek dalam kehidupan manusia yakni lingkungan hidup yang berkelanjutan, memuaskan secara spiritual, dan berkeadilan sosial. Sr. Gail bersama tim, Amelia Hendani yang sekaligus bertugas sebagai penerjemah mengajukan sejumlah pertanyaan untuk bahan diskusi dan evaluasi. Selain itu beberapa film pendek diputar untuk melengkapi dan mendukung tema yang diusung dalam pertemuan yang merupakan kerjasama JRPK sebagai kepanjangan dari Counter Women Trafficking Commission-IBSI, dengan JPIC Fransiskan, JPIC MSC, dan Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau (KKP-PMP) KWI, dan didukung Aksi Nyata Pra Paskah KAJ 2012 ini. Sejumlah aktivitas fisik juga dilakukan bersama. Sekitar 60 peserta yang terdiri dari pastor dan biarawan-biarawati dari berbagai kongregasi mengikuti pertemuan ini dengan antusias hingga acara berakhir sekitar pukul 15.00.

simposium jrpk

 

 

 

Data Pengunjung

Kunjungan [+/-]
Hari ini:
Kemarin:
Sehari sebelumnya:
7
30
21

+9
Minggu ini:
Minggu lalu:
Minggu sebelumnya:
7
194
189

+5
Bulan ini:
Bulan lalu:
Bulan sebelumnya:
595
877
546

+331
Tahun ini:
Tahun lalu:
2018
17205
-15187
You are here  : Home
KOMISI KEADILAN, PERDAMAIAN DAN PASTORAL MIGRAN-PERANTAU KWI
Commission for Justice, Peace and Pastoral for Migrant and Itinerant People of Bishops' Conference Indonesia
Jl. Cikini II/10, Jakarta 10330
Telp. (021) 314 6026 | (021) 315 8070 | Fax. (021) 314 6026 | Email. kkppmp@justice-peace-kwi.org / kkp@kawali.org